Nurainiajeeng's Blog

TERAPI EKSISTENSIAL HUMANISTIK

Posted on: March 24, 2013

Terapi eksistensial humanistik merupakan terapi yang dilakukan dengan pendekatan berdasarkan pada pemahaman filosofis tentang menjadi manusia yang utuh, apa makna menjadi manusia, dan apa makna keberadaannya. Terapi ini berakar pada filsafat eksistensial. Oleh karena itu terapi ini berawal dan berkembang dari filsuf-filsuf eksistensial, seperti Friedrich Nietzsche dan Søren Kierkegaard. Namun Martin Heidegger lah yang merupakan tokoh pendiri eksistensialisme yang berpengaruh besar pada konseling dan psikoterapi eksistensial. Meskipun ia tidak terlibat langsung dalam psikoterapi, filsafat eksistensinya diangkat dan dijadikan acuan oleh psikiatris dari Swiss, yaitu Ludwig Binswanger (1881) dan Medard Boss (1903) yang mereka gunakan dalam memahami kesulitan klien.

Dalam perkembangannya terapi ini dipelopori oleh banyak tokoh berpaham eksistensial seperti Victor Frankl, Rollo May, Irvin Yalom, James Bugental. Eksistensialisme bersama-sama dengan psikologi humanistik, muncul untuk merespon dehumanisasi yang timbul sebagai efek samping dari perkembangan industri dan urbanisasi masyarakat. Pada waktu itu banyak orang yang membutuhkan kekuatan untuk mengembalikan sense of humanness disamping untuk memecahkan masalah-masalah yang berkaitan dengan kebermaknaan hidup.

Menurut Kartini Kartono dalam kamus psikologinya mengatakan bahwa terapi eksistensial humanistic adalah salah satu psikoterapi yang menekannkan pengalaman subyektif individual kemauan bebas, serta kemampuan yang ada untuk menentukan satu arah baru dalam hidup. Sedangkan menurut W.S Winkel, terapi eksistensial humanistik adalah konseling yang menekankan implikasi-implikasi dan falsafah hidup dalam menghayati makna kehidupan manusia dibumi. Terapi ini berfokus pada situasi kehidupan manusia dialam semesta, yang mencakup tanggung jawab pribadi, kecemasan sebagai unsur dasar dalam kehidupan batin. Terapi ini memberikan kajian psikologis untuk mengungkap eksistensi manusia pada taraf empiris, terutama berpusat pada diri, holistik, terobsesi pada aktualisasi diri, serta mengajarkan optimisme mengenai kekuatan manusia untuk mengubah diri mereka sendiri.

Terapi eksistensial humanistik ini sangat cocok untuk orang-orang yang mempunyai masalah-masalah berkaitan dengan ketakberdayaan, keputusasaan, ketakbermaknaan, dan kekosongan eksistensial serta berusaha memahami keberadaan klien dalam dunia kehidupannya. Secara kodrat eksistensi manusia, terapi ini dapat bermanfaat bagi semua orang karena dilakukan dengan pendekatan eksistensial yang diarahkan pada situasi tertentu klien. Namun lebih spesifik terapi ini dapat bermanfaat bagi mereka yang ingin merevaluasi diri, melihat kembali cara mereka menjalani kehidupannya, mengeksplorasi pilihan-pilihan yang tersedia bagi dirinya, dan mengetahui tujuan atau apa yang mereka inginkan dimasa depan.

 

Ciri-ciri Terapi Eksistensial Humanistik

  1. Eksistensialisme bukanlah suatu aliran melainkan suatu gerakan yang memusatkan penyelidikannya manusia sebagai pribadi individual dan sebagai ada dalam dunia.
  2. Adanya dalil-dalil yang melandasi, yaitu;
  • Setiap manusia unik dalam kehidupan batinnya, dalam mempersepsi dan mengevaluasi dunia dan dalam bereaksi terhadap dunia
  • Manusia sebagai pribadi tidak bisa dimengerti dalam kerangka fungsi-fungsi atau unsur-unsur yang membentuknya
  • Bekerja semata-mata dalam kerangka kerja stimulus respons dan memusatkan perhatian pada fungsi-fungsi seperti penginderaan, persepsi, belajar, dorongan-dorongan, kebiasaan-kebiasaan, dan tingkah laku emosional tidak akan mampu memberikan sumbangan yang berarti kepada pemahaman manusia

3. Berusaha melengkapi, bukan menyingkirkan dan menggantikan orientasi-orientasi yang ada dalam psikologi

4. Sasaran eksistensial adalah mengembangkan konsep yang komperehensif tentang manusia dan memahami manusia dalam keseluruhan realitas eksistensialnya, seperti pada kesadaran, perasaan, dan pengalaman individu.

5. Tema-temanya adalah hubungan antar manusia, kebebasan, dan tanggung jawab, skala nilai-nilai individual, makna hidup, penderitaan, keputusan, kecemasan, dan kematian.

 

Metode atau Teknik Terapi Eksistensial Humanistik

Dalam terapi eksistensial humanistik ini tidak memiliki metode yang siap pakai seperti terapi lain. Dalam terapi ini para terapis bisa menggunakan beberapa metode terapi atau bahkan menggabungkannya. Beberapa orang eksistensialis mengesampingkan metode, karena mereka lihat itu semua memberi kesan kekakuan, rutinitas, dan manipulasi. Fokus terapi ini adalah pada situasi hidup klien pada saat itu, dan bukan pada menolong klien agar bisa sembuh dari situasi masa lalu. Biasaya terapis eksistensial menggunakan metode yang mencakup ruang yang cukup luas, bervariasi bukan saja dari klien ke klien, tetapi juga dengan klien yang sama dalam tahap yang berbeda dari proses terapeutik.

Sehingga sering kali para terapis mengadopsi metode fenomenologis yang tidak menganggap semua hal bisa diterima begitu saja, tetapi semua hal perlu dipertanyakan. Terapis diminta menjadi naïf, memiliki sikap terbuka, dan tidak berasumsi bahwa ia tahu dan paham segala hal yang terjadi atau yang dirasakan klien. Terapis harus dapat mengeyampingkan pemahaman yang diperolehnya, menanggalkan prasangka dan bias, terapis harus mendorong klien untuk bisa bertindak pada dirinya sendiri. Dengan begitu terapis dapat mengetahui apapun yang terjadi dengan klien dan lebih fokus pada masalah klien, memperoleh pemahaman yang lebih baik, sehingga mendapat kejelasan yang lebih besar tentang klien.

Namun disisi lain terapi eksistensial humanistik juga merekomendasikan beberapa teknik khusus seperti menghayati keberadaan dunia objektif dan subjektif klien, pengalaman pertumbuhan simbolik (suatu bentuk interpretasi dan pengakuan dasar tentang dimensi-dimensi simbolik dari pengalaman yang mengarahkan pada kesadaran yang lebih tinggi, pengungkapan makna, dan pertumbuhan pribadi).

Proses terapeutik meliputi tiga tahap, yaitu;

  1. Terapis membantu klien dalam mengidentifikasi dan mengklarifikasi asumsi mereka terhadap dunia. Klien diajak mendefinisikan cara pandang agar eksistensi mereka diterima. Terapis mengajarkan mereka bercermin pada eksistensi mereka dan meneliti peran mereka dalam hal penciptaan masalah dalam kehidupan mereka.
  2. Klien didorong agar bersemangat untuk lebih dalam meneliti sumber dan otoritas dari sistem mereka. Semangat ini akan memberikan klien pemahaman baru dan restrukturisasi nilai dan sikap mereka untuk mencapai kehidupan yang lebih baik dan dianggap pantas.
  3. Berfokus pada untuk bisa melaksanakan apa yang telah mereka pelajari tentang diri mereka. Klien didorong untuk mengaplikasikan nilai barunya dengan jalan yang kongkrit. Klien biasanya akan menemukan kekuatan untuk menjalani eksistensi kehidupannya yang memiliki tujuan

 

Tujuan Terapi Eksistensial Humanistik

Tujuan dari terapi eksistensial humanistik, yaitu:

  • Membantu individu menemukan nilai, makna, dan tujuan hidup manusia sendiri.
  • Menyajikan kondisi-kondisi untuk memaksimalkan kesadaran diri dan pertumbuhan.
  • Menghapus penghambat-penghambat aktualisasi potensi pribadi.
  • Membantu klien menemukan dan menggunakan kebebasan memilih dan bertanggung jawab atas arah kehidupan sendiri.
  • Agar klien mengalami keberadaannya secara otentik dengan menjadi sadar atas keberadaan dan potensi-potensi serta sadar bahwa ia dapat membuka diri dan bertindak berdasarkan kemampuannya. Terdapat tiga karakteristik dari keberadaan otentik: (1) menyadari sepenuhnya keadaan sekarang, (2) memilih bagaimana hidup pada saat sekarang, dan (3) memikul tanggung jawab untuk memilih.

 

Efektivitas Terapi Eksistensial Humanistik

Terapi ini dikatakan berhasil jika klien telah mendapatkan eksistensinya, memahami kebermaknaannya dalam hidup, serta merasa menjadi manusia utuh. Dalam hal atau kasus-kasus yang spesifik terapi ini dikatakan efektif apabila klien dapat menyadari, memahami, dan menerima keadaan diri sepenuhnya, dapat secara bebas dan bertanggung jawab dalam memilih dan memutuskan, serta mengetahui tujuan dan keinginan dalam hidupnya.

Dalam pelaksanaannya terapi ini memiliki beberapa kelebihan, yaitu terapi ini dapat lebih fokus pada masalah klien, lebih membebaskan klien, tidak kaku dalam melaksanakan terapi, serta lebih membuat klien menemukan caranya sendiri untuk menangani masalahnya. Namun hal ini juga menjadi kelemahan terapi ini karena tidak menggunakan metode yang khusus siap pakai, sehingga terapi ini tidak berstruktur dan terlalu terbuka. Sehingga dapat menimbulkan kebingungan, perasaan ketidakpastian serta kecemasan bagi klien-klien yang mengharapkan keamanan dalam kehidupan yang mudah.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

  • Abidin, Zanial, 2002. Analisis Eksistensial Untuk Psikologi dan Psikiatri. Bandung: PT Refika Aditama.
  • Corey, Gerald. 1995. Teori dan Praktek dari Konseling dan Psikoterapi. Semarang: IKIP Semarang Press.
  • Gunarsa, Singgih D. 1996. Konseling Dan Psikoterapi. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia.
  • Palmer, Stephen. 2010. Pengantar Konseling dan Psikoterapi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: