Nurainiajeeng's Blog

KEMAMPUAN PENYESUAIAN DIRI MEMPENGARUHI TINGKAT STRESS SESEORANG

Posted on: March 21, 2012

Sepanjang hayat hidup kita sebagai makhluk individu maupun makhluk sosial, tidak bisa terlepas dari proses penyesuaian diri, seperti penyesuaian diri terhadap lingkungan sekitar, penyesuaian diri terhadap orang-orang, bahkan penyesuaian diri terhadap diri sendiri serta hambatan-hambatan yang ada dalam hidup. Penyesuaian diri (self adjustment) merupakan proses untuk memperoleh/ memenuhi kebutuhan (needs satisfaction), dan mengatasi konflik, frustasi, serta masalah-masalah tertentu dengan cara-cara tertentu.

Proses penyesuaian ini secara tidak langsung mempengaruhi kesehatan mental seseorang. Kesehatan mental seseorang sangat penting bagi kelangsungan hidup setiap idividu, kesehatan mental yang baik akan melahirkan jiwa yang baik dan kesehatan mental yang buruk akan melahirkan jasmani yang buruk juga. Kemampuan penyesuaian diri yang kurang baik dapat menimbulkan masalah-masalah kesehatan mental selama rentang kehidupan. Karena kehidupan  tidak selamanya berjalan lancar dan sesuai keinginan, serta adanya hambatan dan pemenuhan-pemenuhan kebutuhan dan pemuasan diri sehingga mengganggu kapasitas penyesuaian diri seseorang.

Kondisi demikian menimbulkan tekanan yang harus dihadapi individu yang bersangkutan, yang sering disebut stress. Konflik dan frustrasi yang bersumber dari faktor internal dan eksternal menjadi sumber stress (Coleman, 1950). Stres merupakan persepsi yang dinilai seseorang dari sebuah situasi atau peristiwa. Sebuah situasi yang sama dapat dinilai positif, netral atau negatif oleh orang yang berbeda. Penilaian ini bersifat subjektif pada setiap orang. Oleh karena itu, seseorang dapat merasa lebih stres daripada yang lainnya walaupun mengalami kejadian yang sama. Selain itu, semakin banyak kejadian yang dinilai sebagai stressor oleh seseorang, maka semakin besar kemungkinan seseorang mengalami stres yang lebih berat.

Taylor (1991) menyatakan, stres dapat menghasilkan berbagai respon. Berbagai peneliti telah membuktikan bahwa respon-respon tersebut dapat berguna sebagai indikator terjadinya stres pada individu, dan mengukur tingkat stres yang dialami individu. Respon stres dapat terlihat dalam berbagai aspek, yaitu:

  1. Respon fisiologis; dapat ditandai dengan meningkatnya tekanan darah, detak jantung, detak nadi, dan sistem pernapasan.
  2. Respon kognitif; dapat terlihat lewat terganggunya proses kognitif individu, seperti pikiran menjadi kacau, menurunnya daya konsentrasi, pikiran berulang, dan pikiran tidak wajar.
  3. Respon emosi; dapat muncul sangat luas, menyangkut emosi yang mungkin dialami individu, seperti takut, cemas, malu, marah, dan sebagainya.
  4. Respon tingkah laku; dapat dibedakan menjadi fight, yaitu melawan situasi yang menekan, dan flight, yaitu menghindari situasi yang menekan.

Seseorang dapat dikatakan memiliki penyesuaian diri yang normal apabila dia mampu memenuhi kebutuhan dan mengatasi masalahnya secara wajar, tidak merugikan diri sendiri dan lingkungannya, serta sesuai denagn norma agama. Dengan demikian penyesuaian diri yang efektif dapat diukur dari seberapa baik individu dalam menghadapi dan mengatasi kondisi yang senantiasa berubah. Haber dan Runyon (1984), mengusulkan beberapa karakteristik penyesuaian diri yang efektif:

  1. Persepsi yang tepat terhadap realita: mampu mengenali konsekuensi dari tindakan dan mengarahkan perilaku yang sesuai, mampu menyusun dan memodifikasi tujuan yang realistic dan berusahan untuk mencapai tujuan tersebut. 
  2. Mampu menghadapi dan mengatasi stress dan kecemasan. 
  3. Memiliki gambaran diri (self image) yang positif: menyadari kekuatan dan kelemahan yang dimiliki, mengharagai kekuatan yang dimiliki dan menerima kelemahan dengan cara yang positif. 
  4. Mampu mengekspresikan perasaan secara terkendali. Orang yang sehat secara emosional mampu merasakan dan mengekspresikan nuansa emosi dan perasaan sehingga memungkinkan untuk membangun dan memilihara hubungan interpersonal yang penuh makna. 
  5. Memiliki hubungan interpersonal yang baik: mampu membina keakraban dalam hubungan sosialnya, nyaman berinteraksi dengan lingkungan menghargai dan dihargai orang lain.

Stress yang diakibatkan dari kurangnya kemampuan penyesuaian diri seseorang, dapat juga menimbulkan gangguan-gangguan mental lainnya, seperti:

  • Psikosomatik

Adalah penderita yang menemukan kelainan-kelainan atau keluhan. Pada tubuhnya yang disebabkan oleh faktor-faktor emosional melalui syarat yang menimbulkan perubahan yang tidak mudah pulihnya, misalnya : sulit tidur jika banyak masalah, hilang nafsu makan, makan berlebihan.

  • Kelainan kepribadian

Penderita sulit untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial. Misalnya orang suka meledak emosinya.

  • Retardasi mental

Adalah keterbelakangan atau keterlambatan perkembangan jiwa seseorang. Contoh dalam memahami sesuatu ilmu pengetahuan yang baru di dapat atau kata-kata baru, cara pemahamannya terlalu lama.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA:

  • Moeljono Notosoedirjo, Latipun. 2000. Kesehatan Mental. Universitas Muhammadiyah Malang.
  • Syamsu Yusuf. 2009. Mental Hygiene. Bandung : Maestro
  • http://www.pspsychologymania.com

 

NUR AINI SEKAR PUTRI M

15510110

2PA01

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: