Nurainiajeeng's Blog

Dampak Mentawai Yang Terabaikan

Posted on: November 7, 2010

Bencana tsunami yang terjadi di Mentawai sangatlah mengejutkan Indonesia, apalagi warga Mentawai sendiri. Karena sebelumnya telah terjadi gempa yang dahsyat sekitar 5,8 SR yang berpotensi tsunami namun bahaya potensi tsunami ditarik kembali oleh pemerintah setelah beberapa menit diumumkan. Namun pada hari Senin (26/10/2010) malam di Mentawai, Sumatera Barat tiba-tiba terjadi tsunami pascagempa 7,2 SR. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika melaporkan, gempa berkekuatan 7,2 SR kemudian disusul gempa dengan kekuatan 6,1 SR dan 6,2 SR pada lima dan delapan jam dari gempa pertama di wilayah yang sama ini menyebabkan tsunami. Gempa Mentawai diakibatkan gesekan dua lempeng aktif Indoaustralia dan Eurasia yang memanjang di perairan pantai Barat Sumatera. Pusat gempa berada pada 3,61 Lintang Selatan-99,93 Bujur Timur dan berkedalaman 10 kilometer serta berlokasi di 78 km barat daya Pagai Selatan, Mentawai, Sumatera barat. Tsunami yang diperkirakan setinggi 2 meter ini dalam sekejap meluluh lantahkan wilayah Mentawai, banyak korban yang berjatuhan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Barat mencatat jumlah korban meninggal dalam bencana gempa dan tsunami di Kepulauan Mentawai mencapai 445 orang, 58 orang dinyatakan hilang (belum ketemu), 175 orang luka berat, dan sekitar 325 orang luka ringan.

Korban-korban bencana Mentawai ini bukan hanya saja berasal dari penduduk sekitar Kepulauan Mentawai, namun juga berasal dari wisatawan asing seperti dari Australia dan Selandia Baru. Karena pusat gempa yang terjadi dekat dengan tempat favorit berselancar wisatawan asing, sehingga banyak resort yang dibangun disana juga. Korban-korban ini juga banyak dari kaum lansia, anak-anak, dan perempuan. Korban-korban ini pun banyak tersebar di beberapa wilayah/desa, seperti Desa Betumonga, Desa Malakopa, Desa Bosua, Desa Beriuleu di Kecamatan Sipora Selatan, Desa Bulasat, Desa Silabu, serta Desa Taikako di Kecamatan Sikakap. Korban-korban yang selamat pun banyak yang kehilangan harta benda atau bahkan anggota keluarga mereka. Penduduk yang mengungsi pun mencapai ribuan orang. BPBD mencatat jumlah pengungsi dari empat kecamatan di Mentawai yang menjadi korban keganasan tsunami mencapai 15.353 jiwa.

Penduduk atau korban-korban mentawai yang selamat atau pun yang terluka sangatlah memperhatinkan. Banyak korban dipengungsian yang sangatlah tidak terurus. Hal ini disebabkan karena selain susahnya medan atau tempat bencana untuk dicapai, hal ini juga dikarenakan kurang tanggapnya pemerintah terhadap bencana. Justru banyak dari kalangan golongan masyarakat atau lembaga sosiallah yang langsung segera terjun ke tempat bencana. Mereka dengan sigap menembus hambatan yang ada di lapangan untuk memberikan bantuan kepada korban-korban bencana. Barulah setelah beberapa hari pemerintah mengirimkan bantuan secara langsung melalui udara. Sebenarnya bantuan sudah cukup banyak terkumpul dan tertampung. Namun karena berbagai hambatan yang ada, bantuan yang terkumpul tidak bisa segera didistribusikan kepara korban. Sampai hari ini, menurut BNPB, baru ada sebanyak 97,6 ton bantuan makanan telah tersalurkan kepada korban tsunami Mentawai. Jumlah bantuan yang tersalurkan tersebut, belum termasuk bantuan yang menumpuk di sejumlah titik.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengakui bahwa bantuan yang seharusnya disalurkan ke korban tsunami di Pesisir Mentawai menumpuk di sejumlah lokasi seperti di Pulau Sikakap. Cuaca yang tidak bersahabat  menjadi kendala penyaluran bantuan ke daerah-daerah korban tsunami berada. Cuaca sekitar Mentawai itu mudah sekali berubah. Hal ini diperburuk oleh adanya badai siklon anggrek yang menarik seluruh uap air ke Samudera Hindia sehingga mengganggu transportasi bantuan dari jalur laut. Demikian juga dengan jalur udara. Selain kendala cuaca, terbatasnya akses komunikasi dan listrik juga menjadi kendala penyaluran bantuan.

Hal ini tentu saja memperparah penderitaan para korban. Selain itu minimnya bantuan medis sangatlah berpengaruh pada kesehatan para korban. Dampak kurangnya tanggap bencana ini tidak saja dirasakan oleh para orang tua atau dewasa, tapi terlebih lagi bagi anak-anak. Yang terlihat jelas adalah adanya trauma pada mereka akibat bencana ini. Banyak anak yang masih belum mendapatkan penanganan khusus terhadap trauma ini. Jika hal ini dibiarkan terus menerus hal ini dapat menyebabkan trauma berkepanjangan bagi anak. Sayangnya para volounter yang ahli atau bisa menangani masalah ini masih sangat sedikit. Para balita dan bayi pun masih banyak yang belum terurus kebutuhannya seperti popok, susu, baju, atau bahkan makanannya.

Setelah terjadi tsunami tersebut juga masih sering terjadi gempa susulan hingga saat ini. Sehingga untuk memperbaiki atau pu mengevakuasi para korban pun masih susah. Karena infrastruktur yang ada disana rata-rata rusak dan masih susah terjangkau untuk diperbaiki, seperti jaringan telepon diduga terputus akibat gempa yang diduga memorak-porandakan infrastruktur di wilayah tersebut. Sehingga masih sulit untuk berkomunikasi dengan orang-orang yang ada disana.

 

 

NUR AINI SEKAR PUTRI M

15510110

1PA04

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: